Cerita Lamun, Manfaat Lingkungan, dan Datangnya Baronang

loading...
Hukum Dan Undang Undang (Jakarta) ~ Tak banyak yang tahu keberadaan lamun. Rumput yang hidup di laut dangkal itu kurang “seksi” bagi para pelancong dibandingkan dengan mangrove dan terumbu karang.

Meski demikian, lamun sebenarnya bukan sekedar rumput yang begoyang. Manfaatnya jauh lebih besar. Bersama terumbu karang dan mangrove, ketiganya berperan besar terhadap kehidupan biota laut dan melindungi manusia.

Padang lamun di Tanakeke menjadi bagian menarik yang bisa disaksikan di pulau ini. Tempat ini juga layak menjadi salah satu destinasi wisata. (KOMPAS/RENY SRI AYU)
Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Udhi Eko Hernawan mengatakan, lamun memiliki beragam manfaat. Salah satunya menjadi rumah dan tempat bernaung berbagai biota laut.

“Sebagian ikan yang hidup di karang, saat kecil butuh lamun. Beberapa jenis cumi bertelur di lamun. Lamun juga jadi makanan utama dugong. Tanpa itu dugong tidak bisa hidup,” kata Udhi di Pulau Pari di Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (2/11/2017).

Lamun juga bisa mencegah terjadinya abrasi. Hantaman ombak menjadi berkurang akibat tertahan oleh lamun. Pasir laut pun menjadi lebih stabil.

Udhi mengatakan, lamun turut berperan terhadap mitigasi emisi karbon. Menurut Udhi, lamun dapat meyerap 5.446 miligram karbon per hektar per tahun atau 83.000 ton per kilometer persegi per tahun. Sebagai perbandingan, jumlah itu dua kali lebih besar dari daya simpan karbon oleh hutan di darat.

“Ibaratnya, karbon yang diserap lamun itu satu hektar bisa menyerap 800.000 batang asap rokok per hari,” kata Udhi.

Cerita manfat laut juga dituturkan oleh Muhayat (42), warga Pulau Pari. Ia merasakan pentingnya lamun sebagai habitat ikan. Tanpa lamun, ikan tidak tertarik datang.

Menurut Muhayat, hal ini juga mendorong peningkatan perekonomian nelayan. Senin hingga Kamis, mereka menangkap ikan di Pulau Burung dan Pulau Tikus yang punya banyak lamun.

“Ya, lamun itu penting sekali buat habitat ikan. Ikan baronang yang paling banyak di lamun. Baronang kan bergerombol. Semakin banyak lamun, semakin banyak ikannya. Nanti dipasang jaring. Tiga ekosistem itu, lamun, mangrove, terumbu karang memang habitatnya ikan,” kata Muhayat.

Meski demikian, keberadaan lamun sangat mengkhawatirkan. Hasil verifikasi Tim Walidata Lamun Pusat Penelitian Oseanogarfi LIPI terhadap 1.507 kilometer persegi pada 2016, hanya lima persen lamun yang masuk dalam kategori sehat dari 166 stasiun pemantauan lamun.

Status lamun ditetukan berdasarkan luas tutupannya pada satu area. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 200 tahun 2004, lamun dapat dikatakan sehat bila tutupannya mencapai lebih dari 60 persen. Hanya sedikit tempat yang masih menyediakan hijaunya lamun, misalnya di Pulau Biak, Papua.

Bila tutupannya berkisar antara 30-59,9 persen, lamun berada dalam kondisi kurang sehat. Kemudian, tutupan lamun tidak sehat berkisar antara 0-29,9 persen. Bila di rata-rata, kondisi lamun di Indonesia berada pada kisaran 41,79 persen.

Berangkat dari temuan tersebut, sejak tahun 2016 LIPI bersama Direktoran Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor dan WWF-Indonesia menjalankan konservasi dugong dan padang lamun atau Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) Indonesia.

Secara simbolis, kampanye penanaman lamun dilakukan di Pulau Pari yang lamunnya berstatus kurang sehat.

Baca :
Sementara itu, artis peran Arifin Putra yang menjadi Duta DSCP Indonesia mengatakan, restorasi lamun merupakan bentuk pertolongan terhadap anggota keluarga. Menurutnya, manusia tidak boleh menghancurkan lamun yang menjadi rumah anggota keluarga lainnya.

“Kita semua keluarga, dengan alam kita keluarga. Kita punya satu ibu, single parent pula, yakni bumi. Bumi ini lagi kelelahan. Ada masalah. Salah satunya adalah lamun dan dugong,” kata Arifin.

Arifin menuturkan, pariwisata tetap dibutuhkan untuk membangun perekonomian. Namun hal itu tidak boleh disertai dengan kerusakan lingkungan. Manusia, kata Arifin, lebih membutuhkan Bumi dari pada sebaliknya, demikian dilansir dari KOMPAS.com. (***)
Share:  

No comments:

Post a Comment